Home Kegiatan Empat Hari di Gunung Bunder, Kembara PKS Jaksel Tinggalkan Cerita dan Semangat Baru

Empat Hari di Gunung Bunder, Kembara PKS Jaksel Tinggalkan Cerita dan Semangat Baru

by admin

Empat hari berada di alam terbuka akhirnya menjadi kenangan yang tidak mudah dilupakan. Kemah Bela Negara (Kembara) 2026 gelombang pertama yang digelar DPD PKS Jakarta Selatan di kawasan Gunung Bunder, Bogor, Jawa Barat, resmi berakhir setelah berlangsung pada 10–13 September 2026. Ratusan peserta menjalani rangkaian kegiatan yang memadukan pembinaan, aktivitas fisik, kebersamaan, wawasan kebangsaan, penguatan ruhiyah, hingga berbagai aktivitas luar ruang. Namun lebih dari sekadar menyelesaikan agenda, Kembara menjadi ruang untuk berhenti sejenak dari rutinitas, hidup lebih dekat dengan alam, saling mengenal, saling membantu, dan membangun kembali energi kebersamaan.

Alhamdulillah, seluruh rangkaian kegiatan juga dapat berlangsung dengan lancar hingga acara penutupan. Kondisi seluruh peserta tetap sehat dan tidak ada peserta yang mengalami sakit ataupun kegawatdaruratan selama kegiatan. Setelah menjalani berbagai aktivitas di alam terbuka, tentu ada sedikit rasa lelah, pegal-pegal, atau badan terasa tidak seperti biasanya. Tetapi justru itulah bagian dari pengalaman Kembara. Lelah yang dirasakan menjadi bukti bahwa selama empat hari para peserta benar-benar bergerak, beraktivitas, dan menikmati setiap tantangan bersama. Capek sedikit, pegal sedikit, tentu wajar, yang penting pulang membawa cerita, pengalaman, dan semangat baru.

Ketua DPD PKS Jakarta Selatan, Furqoni Yudhistira, menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, peserta, serta para pembina Unit Pembinaan Anggota (UPA) yang telah bekerja bersama memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan baik. “Alhamdulillah, kegiatan Kemah Bela Negara 2026 untuk gelombang pertama sudah selesai. Semua agenda berjalan dengan baik. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia, peserta dan para pembina UPA yang telah membantu terlaksananya kegiatan ini,” ujar Furqoni.

Kembara juga menjadi semakin istimewa karena kebersamaan tidak hanya terbangun antar peserta, tetapi juga antara anggota dan para pimpinan di berbagai tingkatan. Dalam suasana kemah, sekat-sekat struktural terasa lebih cair. Pimpinan DPRa, DPC, hingga DPD dapat berada dalam ruang yang sama, mengikuti aktivitas yang sama, bahkan berbagi tempat tinggal dalam satu tenda. Bagi Furqoni, pengalaman seperti ini memiliki nilai tersendiri. “Kebersamaan dalam tenda dengan para pimpinan menjadikan kedekatan itu terasa. Ini tidak bisa didapat di kegiatan lain,” ungkapnya.

Kehadiran pejabat publik sebagai peserta juga memberikan warna tersendiri. Furqoni memberikan apresiasi khusus kepada Nasir Djamil dan Habib Idrus Salim Aljufri, dua anggota DPR RI dari PKS yang turut mengikuti Kembara. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa pembinaan dan semangat bela negara bukan hanya menjadi ruang bagi anggota di tingkat struktur, tetapi menjadi pengalaman bersama yang dapat dijalani siapa pun, termasuk para pejabat publik.

Bagi DPD PKS Jakarta Selatan, Kembara bukan sekadar kegiatan berkemah atau aktivitas luar ruang. Di dalamnya terdapat proses pembinaan yang dirancang secara utuh: membangun kebugaran dan ketahanan fisik, memperluas wawasan, menguatkan ruhiyah, menumbuhkan ukhuwah, serta melatih kepemimpinan dan kemampuan menghadapi berbagai situasi. Konsep semacam ini sejalan dengan semangat Kembara di berbagai daerah yang menempatkan kebugaran, ketahanan mental, kebersamaan, nasionalisme, dan kesiapsiagaan sebagai bagian dari pembinaan anggota.

Karena itu, setiap aktivitas yang dijalani selama Kembara diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman selama berada di Gunung Bunder. Rasa lelah, dingin, kebersamaan, tantangan, canda, tawa, hingga momen-momen sederhana ketika peserta saling membantu justru menjadi bagian dari proses pembelajaran. Dari sanalah ketangguhan dibangun: bukan hanya ketika seseorang mampu melewati tantangan secara pribadi, tetapi ketika ia mampu berjalan bersama, membantu yang lain, dan tetap menjaga semangat dalam situasi yang tidak selalu mudah.

Furqoni berharap semangat tersebut dapat terus dibawa pulang oleh seluruh peserta dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. “Kami berharap para peserta bisa mengambil hikmah dari setiap kegiatan outbound yang diikuti, karena semuanya dirancang bukan sekadar fisik, tapi untuk menumbuhkan nilai-nilai ruhiyah, ukhuwah, dan kepemimpinan,” pungkasnya.

Kembara gelombang pertama akhirnya selesai. Tenda mungkin telah dibongkar, perlengkapan telah kembali ke rumah, dan aktivitas kembali ke rutinitas masing-masing. Tetapi semangat yang dibangun selama empat hari di Gunung Bunder diharapkan tidak ikut ditinggalkan di sana. Sebab pada akhirnya, Kembara bukan tentang siapa yang paling kuat bertahan di alam terbuka, melainkan tentang bagaimana setiap peserta pulang dengan hati yang lebih kuat, persaudaraan yang lebih dekat, semangat kebangsaan yang semakin tumbuh, dan kesiapan untuk kembali hadir serta memberikan manfaat di tengah masyarakat.

Spread the love

You may also like

Leave a Comment