Betawi merupakan etnis yang paling lama mendiami Jakarta, seperti etnis yang lain Betawi juga tidak bisa dipisahkan dari ritual atau upacara. Dalam ritual dan upacara seperti kelahiran, kematian, pertanian, dan juga perkawinan itulah kemudian memunculkan beragam kuliner Beyawi yang bermacam – macam.
Kuliner Betawi yang paling sering kita kenal dan sering kita nikmati adalah nasi uduk. Di setiap pelosok di Jakarta banyak ditemui nasi uduk ini. Ibu Asmara Dewi, Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga PKS Jaksel menjelaskan sedikit tentang sejarah nasi uduk ini. “Nasi uduk merupakan perpaduan kuliner Melayu dan Jawa, cita rasa Melayu berasal dari kalangan Melayu yang lari dari Malaka ke Batavia saat Portugis menjajah daerah sana. Sementara cita rasa Jawa dibawa oleh orang – orang Mataram yang menyerang VOC di Batavia. Perpaduan anatara lemak dari Melayu dan gurih dari Jawa inilah yang kemudian melahirkan nasi uduk,” ujar Ibu Asmara Dewi. Oleh karenanya nasi uduk sebenarnya lebih kental budaya Jawa dan Melayunya, sebenarnya ada yang “lebih Betawi” lagi dari nasi uduk yakni nasi ulam ujar Ibu Asmara Dewi yang juga merupakan warga asli Betawi Cilandak.
Tidak menyalahkan siapa – siapa jika sekarang kuliner Betawi kurang dikenal, menurut Ibu Asmara Dewi bahwa kini berbagai masakan nusantara dan juga internasional sudah membanjiri kota Jakarta. Hal inilah yang menjadikan masakan khas Betawi memiliki banyak pesaing dalam bidang kuliner, sehingga kuliner Betawi semakin sulit ditemukan di Ibu Kota Jakarta. Sebuah survey bahwa mengatakan rata-rata sekitar 76% remaja di Jakarta kurang mengenal masakan khas Betawi selain Kerak Telor dan Soto Betawi.
Kuliner Betawi itu bukan hanya nasi uduk, nasi uduk itu hanya sebagian kecil saja dari beragamnya kuliner Betawi. Ada banyak jenis kuliner Betawi, ada yang masih asing ada yang sudah akrab misalnya saja gabus pucung, nasi ulam, slendang mayang, kue talam, sayur besan, semur jengkol, asinan jakarta, gurame pecak, bandeng pesmol, ketoprak, gado – gado, ketupat sayur, pindang bandeng, soto tangkar dan sayur babanci.
Ibu Asmara Dewi juga menjelasakan bahwa kuliner Betawi bukan hanya pada makanan tetapi juga minuman, Betawi mempunyai banyak ragam kuliner minuman, salah satunya adalah bir pletok. Bir pletok merupakan perpaduan budaya kuliner Arab dan Eropa.
Ibu Asmara Dewi sangat bahagia akhirnya Pemrov DKI memfasilitasi berdirinya pusat kuliner Betawi di Setu Babakan Jakarta Selatan, “Kebijakan ini sudah lama kami tunggu-tunggu, dengan difasilitasi semacam itu harapannya makanan khas Betawi ini bisa dikenal lebih luas hingga seluruh Indonesia, bahkan bisa sampai dunia. Ini yang dimaksud dengan melestarikan budaya lokal. Kuliner Betawi memiliki rasa yang enak dan kandungan gizi yang cukup, tinggal dilakukan pengemasan yang bagus insyaAllah mudah dikenal masyarakat luas,” kata Ibu Asmara Dewi.
Dengan adanya pusat kuliner Betawi Setu Babakan ini, harapannya kuliner khas Betawi tidak lagi terpinggirkan dan justru mendapatkan tempat memadai di daerah asalnya sendiri. “Kota – kota besar di dunia selalu memiliki ciri khas lokasi kuliner yang menyatu dengan lokasi keseniannya, ini cocok pusat kuliner Betawi ditempatkan di Setu Babkan yang merupakan pusat wisata budaya Betawi di Jakarta Selatan yang masih eksis, ujar Ibu Asmara Dewi. Beliau mencontohkan, di New York, Amerika Serikat, sebelum menonton drama musikal di Broadway, pengunjung bisa menikmati aneka kuliner khas daerah tersebut. Harapannya dengan adanya pusat kuliner Betawi Setu Babakan, masyarakat bisa lebih menyukai dan lebih mengenal asal muasal kuliner Betawi daripada makanan Internasional. “Melestarikan warisan kuliner sama artinya dengan melestarikan kebudayaan, di dalam kuliner terdapat teks perjalanan sejarah dari sebuah etnis,” ungkap Ibu Asmara Dewi.




Dewan Pimpinan Pusat Rumpun Masyarakat Betawi (DPP RMB) mengundang Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Hidayat Nur Wahid, pada acara milad ke-8 RMB yang digelar besok, di Condet, Jakarta, Sabtu, 14 Oktober 2017.
embangunan di Jakarta tentu berpengaruh terhadap warga Betawi sebagai penduduk asli kota Jakarta. Pembangunan besar-besaran di Jakarta semakin membuat pemukiman warga khususnya warga Betawi semakin sempit dan tergeser. Posisinya terlihat semakin tersingkir, semoga nasib warga Betawi tidak menjadi seperti suku Aborigin di Australia atau suku Indian di Amerika. Suku yang menjadi warga kelas dua di wilayah asli mereka sendiri, selain itu mereka juga kehilangan hak-hak sosial kehidupannya. Pembangunan gedung-gedung pencakar langit, hotel, apartemen, minimarket, serta mall-mall secara perlahan dan sadar menyingkirkan penduduk asli. Pembangunan fisik Kota Jakarta yang tidak mempertimbangkan faktor kelanjutan hidup satu komunitas masyarakat dengan budayanya, ujungnya bisa saja seperti penghapusan etnis tertentu yang dijalankan pelan – pelan. Betawi sebagai pihak yang memiliki tanah sebagai warisan leluhur, kampung halaman, adat istiadat, dan bahasa, harus dihormati selaras dengan perkembangan jaman dan peradaban. Pembangunan Jakarta disinyalir telah berdampak terhadap ancaman kepunahan budaya dan masyarakat Betawi sebagai satu kesatuan suku atau etnis di Jakarta.

