Dalam dinamika politik Indonesia, terutama menjelang pemilihan umum, tuduhan, cacian, dan hoaks kadang dijadikan senjata ampuh untuk mengguncang citra partai politik tertentu. Salah satu partai yang seringkali menjadi sasaran tuduhan adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang sering disandingkan dengan istilah “Wahabi.” Meskipun demikian, menarik untuk diamati bahwa meski berbagai tuduhan negatif tersebut telah mewarnai sejarah PKS, partai ini terus mengalami kenaikan suara setiap pemilu. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin cerdas, paham, dan tidak terprovokasi oleh upaya adu domba.
Sejak lama, PKS telah dihadapkan pada serangan verbal yang merendahkan, seperti tuduhan sebagai partai “Wahabi.” Wahabi adalah istilah yang sering dikaitkan dengan interpretasi Islam yang konservatif dan literalis. Tuduhan semacam ini, bersama dengan cacian dan hinaan lainnya, sering kali muncul menjelang pemilu sebagai upaya untuk merusak citra partai dan menggerus dukungan publik.
Meskipun sering menghadapi tuduhan yang tidak berdasar, pemilih PKS tetap setia pada partai mereka. Ini menggambarkan kedewasaan dan kecerdasan masyarakat dalam memahami permainan politik yang terkadang kotor. Masyarakat telah memahami bahwa isu-isu negatif yang dilemparkan pada PKS bukanlah cerminan substansi dan kualitas partai tersebut.
Lebih dari itu, masyarakat Indonesia juga semakin menyadari pentingnya persatuan dan ukhuwah dalam membangun bangsa. Pada tingkat dasar, masyarakat memahami bahwa terprovokasi oleh tuduhan tanpa dasar dan serangan yang tidak konstruktif hanya akan merugikan kesatuan dan stabilitas bangsa.
Kenaikan suara PKS pada setiap pemilu adalah cerminan dari kecerdasan politik masyarakat. Mereka tidak terjebak dalam perang kata-kata dan tuduhan tanpa dasar. Sebaliknya, pemilih PKS memilih untuk melihat substansi program, visi, dan misi partai tersebut. Pemilih yang cerdas mampu membedakan antara retorika politik yang bersifat destruktif dan pemikiran yang konstruktif untuk kemajuan bangsa.
Partai politik memiliki tanggung jawab besar dalam membangun demokrasi yang sehat dan berkeadilan. Melalui kecerdasan politik masyarakat, partai-partai dapat diuji dan dipilih berdasarkan kualitas dan kontribusi mereka untuk kemajuan bangsa.
Dalam konteks ini, AL Mansyur sebagai Ketua DPD PKS Jakarta Selatan memberikan himbauan yang sangat relevan. AL Mansyur menghimbau kepada anggota, simpatisan, relawan dan juga warga untuk tetap menjaga suasana aman dan damai jelang pemilu serta menolak terprovokasi oleh hoaks dan fitnahan. “Fokus pada agenda perubahan bersama pasangan AMIN merupakan langkah yang konstruktif dan sesuai dengan semangat persatuan dan ukhuwah yang dikedepankan oleh PKS,” ujar AL Mansyur.
AL mansyur menegaskan bahwa saat ini masyarakat semakin memahami pentingnya memilih berdasarkan substansi dan bukan melihat dengan tuduhan tanpa dasar. Oleh karena itu, dalam merespons tuduhan dan serangan politik, masyarakat semakin menyadari bahwa persatuan dan ukhuwah adalah kunci untuk menjaga kestabilan dan kemajuan bangsa.
Kenaikan suara PKS pada setiap pemilu, meskipun dihadapkan pada tuduhan dan hoaks, memberikan gambaran bahwa masyarakat Indonesia semakin cerdas dan paham dalam memilih pemimpin. Masyarakat tidak terprovokasi oleh upaya adu domba dan fitnahan yang coba menciptakan polarisasi di tengah-tengah masyarakat yang sedang menghadapi pesta demokrasi.
Himbauan untuk menjaga suasana aman dan damai oleh AL Mansyur mencerminkan komitmen PKS dalam membangun politik yang beradab, menjauh dari kekerasan retorika, dan memperkuat ukhuwah sebagai dasar persatuan dalam perbedaan. Semoga, dengan kesadaran ini, pemilu di masa depan dapat menjadi ajang untuk memperkuat demokrasi dan membawa perubahan positif bagi Indonesia. (ADM)














