Program Maghrib Mengaji dari RIDO saat ini menjadi subjek kritik kompetitor, terutama terkait dengan anggapan bahwa program ini tidak memberikan dampak signifikan bagi masyarakat. Namun, berbagai data dan penelitian terbaru menunjukkan bahwa program ini memiliki dampak positif yang nyata, baik dalam pendidikan agama, pengembangan karakter anak, maupun penguatan komunitas.
Ketua DPD PKS Jakarta Selatan, Al Manyur mengatakan bahwa kritikan terhadap usulan program Maghrib Mengaji sering kali berfokus pada anggapan bahwa program ini tidak efektif dalam memberikan dampak positif bagi masyarakat. Namun, bukti menunjukkan bahwa program ini justru memiliki peran penting dalam meningkatkan pemahaman agama di kalangan anak-anak. Menurut Al Mansyur bahwa data – data terbaru menunjukan bahwa anak-anak yang mengikuti program ini mengalami peningkatan minat dalam belajar agama Islam, ini menunjukkan bahwa pendekatan ini berhasil menarik perhatian mereka. Selain itu, program ini tidak hanya mengajarkan bacaan Al-Qur’an, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral dan karakter yang penting, yang berdampak positif pada perilaku anak di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Di samping itu, menurut Al Mansyur bahwa kritik terhadap metode pembelajaran yang dianggap konvensional tidak sepenuhnya tepat, karena banyak pengajar telah berinovasi dengan menggunakan teknologi untuk meningkatkan pengalaman belajar. Misalnya, penggunaan aplikasi mobile dan materi interaktif telah terbukti meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran. Program Maghrib Mengaji juga berfungsi sebagai wadah untuk memperkuat ikatan komunitas, dengan melibatkan orang tua dan tokoh masyarakat dalam mendukung pendidikan anak-anak. Al Mansyur menegaskan bahwa program ini memiliki potensi besar untuk terus memberikan kontribusi signifikan terhadap pendidikan agama Islam dan pengembangan karakter anak di masyarakat.
Salah satu kritik utama terhadap Program Maghrib Mengaji adalah bahwa program ini tidak berhasil meningkatkan minat anak-anak dalam belajar agama. Namun, data dari Kementerian Agama menunjukkan bahwa di Kota Bandung, terdapat peningkatan sebesar 15% dalam jumlah anak yang mengikuti kelas mengaji setelah program ini diterapkan. Al Mansyur mengatakan bahwa ini menunjukkan program ini berhasil menarik minat anak-anak untuk belajar agama Islam.
Selain fokus pada pembelajaran Al-Qur’an, menurut Al Mansyur bahwa Program Maghrib Mengaji juga berperan dalam pengembangan karakter dan moralitas anak. Sebuah studi oleh Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung menemukan bahwa anak-anak yang mengikuti program ini menunjukkan peningkatan dalam perilaku sopan santun dan kepatuhan terhadap norma-norma sosial. Studi ini juga mencatat bahwa 70% orang tua melaporkan perubahan positif dalam perilaku anak mereka setelah mengikuti program ini.
Selain itu, Al Mansyur juga mengungkapkan bahwa Program Maghrib Mengaji tidak hanya berdampak pada anak-anak, tetapi juga pada keluarga mereka. Survei oleh Lembaga Penelitian Masyarakat di Bengkulu Selatan mengungkapkan bahwa 75% orang tua melaporkan anak mereka menjadi lebih rajin beribadah dan menunjukkan sikap lebih hormat setelah mengikuti program ini. Ini menunjukkan bahwa program ini berkontribusi pada pembentukan lingkungan keluarga yang lebih religius dan harmonis.
Kritik lain menurut Al Mansyur yang sering muncul adalah bahwa metode pembelajaran dalam Program Maghrib Mengaji dianggap konvensional dan kurang menarik. Namun, banyak pengajar telah beradaptasi dengan menggunakan teknologi dalam pembelajaran. Di Ciamis, misalnya, beberapa pengajar telah menggunakan aplikasi mobile untuk memperkenalkan cara membaca Al-Qur’an yang lebih interaktif. Laporan dari Komunitas Pendidikan Islam menyatakan bahwa penggunaan aplikasi ini berhasil meningkatkan partisipasi anak dalam pembelajaran hingga 30%.
Al Mansyur menambahkan bahwa Program Maghrib Mengaji juga berfungsi sebagai sarana untuk memperkuat komunitas. Dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, seperti orang tua, guru, dan tokoh agama, program ini menciptakan ruang untuk kolaborasi dalam mendidik anak-anak. Di Bandung, acara ‘Kegiatan Maghrib Bersama’ yang diadakan setiap bulan berhasil menarik ratusan warga untuk berpartisipasi dalam mendukung pendidikan anak-anak mereka.
Meskipun ada kritik yang menyatakan bahwa Program Maghrib Mengaji tidak memberikan dampak signifikan, berbagai bukti menunjukkan sebaliknya. Program ini terbukti memberikan manfaat dalam pendidikan agama, penguatan karakter, serta dampak positif pada keluarga dan masyarakat. Dengan adanya inovasi dalam metode pembelajaran, Program Maghrib Mengaji memiliki potensi besar untuk terus berkontribusi dalam pendidikan agama Islam di kota-kota di Indonesia.
