Di tengah derasnya hujan yang tiba-tiba mengguyur sebuah kampung di Jakarta Selatan, dua orang relawan RIDO, yakni Umi dan Siti, terpaksa berteduh di teras rumah seorang warga. Sembari menunggu hujan reda, pemilik rumah, seorang ibu paruh baya, menyambut mereka dengan ramah. Ia mempersilakan mereka duduk dan menyuguhkan segelas teh manis hangat serta beberapa piring cemilan sederhana, kacang rebu, singkong rebus dan risoles.
Setelah mencicipi teh manis yang menghangatkan, Umi membuka percakapan dengan santai, “Wah, enak sekali teh manisnya, Bu. Hujan-hujan begini memang paling pas.”
Ibu pemilik rumah tersenyum, “Iya, Mbak Umi, ini teh sederhana saja. Kebetulan tadi baru siap masak. Tapi ngomong-ngomong, kalian relawan RIDO, ya?”
Umi mengangguk, sementara Siti ikut menimpali, “Iya, Bu. Kami memang lagi keliling untuk silaturahmi menyapa warga di sini. Alhamdulillah, tadi di perjalanan hujan, jadi bisa ketemu ibu di sini.”
Ibu itu kemudian tampak berpikir sejenak sebelum bertanya, “Sebenarnya saya masih bingung, Mbak. Dulu 2019, saya ikut dukung cagub yang diusung PKS karena, ya, kurang sreg aja dengan gubernur sebelumnya yang kata- katanya agak arogan, suka marah dan kasar. Tapi sekarang saya juga belum yakin harus pilih siapa. Bingung, sebenarnya.”
Mendengar itu, Umi tersenyum tipis, dan dengan nada ringan berkata, “Bu, sebenarnya gampang. Kalau Ibu sudah nyaman sama kepemimpinan gubernur 2019–2022 yang diusung PKS saat itu, mungkin Ibu tinggal cari irisan yang sama saja di pilkada kali ini.”
Ibu itu tampak sedikit heran, “Maksudnya gimana, Mbak?”
Siti ikut menjelaskan, “Begini, Bu. Kalau waktu itu Ibu sudah merasa nyaman dengan pilihan Cagub yang didukung PKS, mungkin kali ini bisa cari yang punya visi sama. Kebetulan RIDO juga saat ini didukung PKS untuk maju di pilkada Jakarta kali ini.”
Umi menambahkan sambil tersenyum, “Ibu lihat saja, mana yang sejalan dan bikin nyaman yang sama – sama di dukung PKS. Sama seperti dulu saat 2019 Ibu memilih cagub yang di dukung PKS, nyaman kan? Ibu merasakan bedanya. Intinya sederhana saja.”
Ibu itu terlihat merenung sejenak, lalu perlahan tersenyum, “Iya juga, ya. Kenapa nggak terpikir begitu dari awal.”
Akhirnya, dengan antusias, Ibu itu bertanya, “Kalau ada kegiatan di sekitar sini lagi, boleh, ya, saya ikut?”
Mereka bertiga pun tertawa bersama. Umi mengangguk, “Pasti, Bu. Semua dukungan dari warga seperti Ibu sangat berharga buat kami.”
Hujan mulai reda, dan Umi serta Siti pamit. Dalam hati, mereka bersyukur, bahwa rezeki bisa datang di mana saja, bahkan dalam guyuran hujan deras, di teras sederhana seorang warga.
